This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label geolistrik. Show all posts
Showing posts with label geolistrik. Show all posts

Saturday, 25 June 2016

Survey Geolistrik untuk mengetahui sebaran air tanah di lingkungan pengendapan Gunungapi Tua,Gunungapi Muda dan Endapan Alluvial.



Survey geolistrik dilakukan di kecamatan Kedawung, Kecamatan Tanon dan Kecamatan Miri. Masing-masing kecamatan dilakukan pengukuran sebanayak satu titik sounding. Konfigurasi yang digunakan adalah Schlumberger dengan panjang bentangan kebel arus (AB/2) sejauh 200 m dan kabel potensial 0,5 – 25 m. Gambar 1 merupakan kondisi topografi daerah pengukuran. Pada gambar tersebut menunjukan titik GL-15 yang berada di kecamatan kedawung memiliki elevasi sekitar 218 m. Titik GL-13 yang berada di kecamatan Tanon memiliki elevasi 86 m dan titik GL-5 yang berada di kecamatan miri memiliki elevasi 152 m. profil daerah pengukuran pergelombang. Dimana GL-15 terletak di kaki gunung Lawu, GL-13 berada pada dataran rendah sungai bengawan solo dan GL-5 berada pada perbukitan endapat vulkanik.
Gamabr 1.Peta Topografi daerah pengukuran
Gambar 2. Profil Ketinggian daerah pengukuran






Geologi dan Hidrogeologi daerah pengukuran
Pengukuran geolistrik dilakukan di Daerah yang memiliki geologi yang berbeda antara titik sounding satu dengan yang lainya. Titik sounding GL-15 merupakan endapan gunung Api Lawu dengan batuan penyusun merupakan Batupasir gunungapi, batulempung- lanau gunungapi, breksi gunungapi dan lava. Sebaran dari endapan ini mengisi wilayah dataran di kaki gunung atau membentuk beberapa perbukitan rendah.
Material yang mengendap pada morfologi yang berbentuk lereng memiliki porositas dan permeabilitas yang baik. Faktor lain adalah curah hujan yang tinggi sehingga cadangan air tanah semakin banyak. Pada daerah lereng gunungapi Lawu banyak ditemukan sumber mata air. Debit mata air pada gunungapi muda lebih besar dibandingkan dengan debit mata air yang keluar dari pegunungan lipatan (Murdiono (1972) .
Titik GL-13 berada di endapan aluvial. Dataran rendah sungai Bengawan Solo disusun oleh batuan sedimen dengan ukuran lanau, lempung, pasir, kerikil dan kerakal. Ednapan aluvial merupakan endapan hasil pelapukan batuan yang mengalami erosi dan kemudian di terbwa oleh angin atau aliran air permukaan sehingga mengendap. Sumber material endapan daerah ini berasal dari daerah yang dilewati sungai bengawan Pada daerah ini memiliki sumber air tanah dengan produktivitas sedang dengan penyebran meluas.
Titik GL-15 beada pada endapan Notopuro. Material penyusun materi Formasi Notopuro berasal dari gunung Ungaran Tua. Formasi ini berumur plistosen tengah sampai atas. Litologi penyusun batuannya merupakan Breksi lahar di bagian bawah, Perselingan tuf dengan batupasir tufan di bagian atas. Lingkungan pengendapan formasi ini merupakan lingkungan darat dengan ketebalan mencapai 240 m. 

Gambar 3. Peta Geologi Sragen

Hasil Dan Pembahsan
Hasil pengolahan data geolistrik dari tiga titik pengukuran menghasilkan penampang litologi seperti pada gambar 4. Dari gambar tersebut menunjukan pada titik GL-5 lapisan pertama memiliki nilai resistivitas rendah 0-10 ohm.m yang menunjukan lapisan lempung dan pasir. Pada lapisan kedua merupakan batuan dengan nilai tahanan jenis 20 – 1000 ohm.m yang diinterpretasikan sebagai lapisan pasir, batupasir tufan yang diperkirakan sebagai lapisan akuifer. Lapisan paling bawah merupakan batuan dengan nilai resistivitas lebih dari 2000 ohm.m diinterpretasikan sebagai lapisan breksi vulkanik. Pada titik GL-15 yang berada pada dataran rendah aluvial memiliki nilai resistivitas rendah sampai sedang. Batuan penyusun daerah ini merupakan lempung dan pasir. Lapisan pertama merupakan lempung, lapisan kedua merupakan lapisan pasir yang berperan sebagai akuifer, lapisan ketiga merupakan lapisan lempung.Titik GL-13 berada di kaki gunungapi Lawu, nilai resistivitas pada daerah ini 4 – 600 ohm.m. pada lapisan pertama merupakan lempung, lapisan kedua merupakan lapisan pasir yang diperkirakan sebagai akuifer dan pada lapisan ketiga merupakan batupasir tufan.

Gambar 4.Profil litologi daerah pengukuran

Dari gambar 4 dapat dilihat kedalaman permukaan air tanah dalam di lokasi pengukuran. Pada titik GL-5 muka air tanah dalam berada pada kedalaman 22 m, pada titik GL-15 berada pada kedalaman 26 m dan pada titik GL-13 pada kedalaman 13 m.. Dari gamabar tersebut dapat dilihat pola aliran air tanah mengikuti profil topografi ditunjukan oleh gambar 5. Pola aliran air tanah mengalir dari daerah yang memilili elevasi yang tinggi menuju daerah yang memiliki elekvasi rendah. Pada daerah pengukuran, air mengalir dari tittik GL-13 dan GL-5 menuju GL-15. Sumber air tanah di GL-13 berasal dari aliran gunung lawu sedangkan pada titik GL-5 berasal dari gugung apitua ungaran. Debit air pada lapisan gunungapi muda lebih besar dari lapisan gunungapi tua.


Gambar 5. Peta Kedalaman muka air tanah

























Sunday, 31 January 2016

Survey Geolistrik

Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang memanfaatkan sifat aliran listrik untuk mengetahui kondisi bawah permukaan. Metode ini terdiri dari berbagai konfigurasi diantaranya Schlumberger, wenner, Dipole-dipole. Data yang dihasilkan dari survey geolistrik merupakan kurva resistivitas 2D mapping dan kurva resistivitas 1 D. Kegunaan dari survey ini diantaranya : 
  1. Eksplorasi Air tanah
  2. Eksplorasi mineral
  3.  Eksplorasi Batubara
  4.  Survey Geoteknik
Berikut ini merupakan contoh laporan untuk servei Geolistrik :
  • Survei menentukan kedalaman badrock untuk keperluan geoteknik
  • Survei Geolistrik untuk eksplorasi air tanah 
Penampang 2d Hidrostratigrafi
  • Survey geolistrik untuk sumur bor air tanah






Tuesday, 26 January 2016

Survey Geolistrik Untuk Memetakan Intrusi Air Laut dan Air Tawar di Pantai Utara Laut Jawa Kabupaten Kendal Jawa Tengah

Metode geolistrik selain digunakan untuk mengetahui posisi kedalaman air tawar, metode ini juga bisa digunakan untuk mengetahui sebaran intrusi air laut. Dua minggu yang lalu kami bersama PT Supra Indodrill (supraindodrill.comdan LAPI ITB melakukan survey geolistrik di pesisir pantai Utara Kabupaten Kendal. Daerah ini rencananya akan di buat sebagai Kawasan Industri Kendal.

















Saturday, 2 January 2016

Eksplorasi potensi air tanah di kawasan aluvial Plupuh - Tanon, Kab. Sragen: aplikasi metode geolistrik tahanan jenis

Muhamad Defi Aryanto[1], Feri Andianto[2], dan Dasapta Erwin Irawan[3]*
[1]Prodi Fisika, Universitas Sebelas Maret, Surakarta
[2]CV Tirta Persada
[3]Prodi Magister Teknik Air Tanah, FITB ITB
* corresponding author

Abstrak

Survei geolistrik dilakukan untuk mengetahui batuan yang berpotensi sebagai akuifer di Kec.  Plupuh dan Tanon Kab. Sragen. Pengukuran geolistrik telah dilakukan di kedua lokasi masing-masing sebanyak 11 titik vertical electrical sounding (VES) menggunakan konfigurasi Schlumberger dengan jarak elektroda arus (AB/2) 150 – 200 m dan jarak elektroda potensial (MN/2) 0,5 – 10 m. Interpretasi nilai resistivitas menghasilkan lapisan lempung (1 – 10 ohm.m) dan pasir (10 – 100 ohm.m) berpotensi sedang sampai produktif, membentuk sistem akuifer endapan aluvial perselingan antara lempung dan pasir. Dari interpretasi posisi lapisan impermeabel, akuifer tertekan tersusun dari pasir dapat diidentifikasi di Kec. Tanon pada kedalaman akuifer 30 – 60 m dan ketebalan 30 – 50 m, dan di Kec. Plupuh pada kedalaman akuifer 15 – 45 m dan ketebalan 30 – 50 m. Hasil pemetaan ini dapat digunakan oleh pihak berwenang untuk menyiapkan sumber air baru bagi masyarakat.
Kata kunci: akuifer aluvial, geolistrik, vertical electrical sounding, Sragen

Abstract
Geoelectrical survey has been conducted to identify groundwater potential in Plupuh and Tanon districts, Sragen. We measured 11 Vertical electrical sounding (VES) using Schlumberger configuration with 150 – 200 m of current electrode interval (AB/2) and 0.5 – 10 m of potential electrode interval (MN/2). The method successfully identify clay layers with resistivity value interval of 1 – 10 ohm.m and productive sand layers with a range of resistivity value 10 – 100 ohm.m. Both layers build an alluvial system. In the Tanon district, there are confined aquifers at 30-60 m in depth with a thickness between 30 – 50 m, where as in the Plupuh districts, the depth of confined aquifers are 15-45 m with a thickness of 30-50 m. The above findings are very promising for the authorities to set up a new water supply source for the area.
Key Words: Geolectrical, Aquifer, Schlumberger Configuration. 



Jika anda memerlukan survei geolistrik atau tenaga ahli dibidang geolistrik hub 085726824773/ 0812215262615 email aryanto.defi@yahoo.com.

Monday, 16 November 2015

Cara Membuat Korelasi Litologi dengan Surfer

Korelasi litologi diperlukan untuk memenentukan sebaran litologi yang sama di sekitar titik ukur. Paling sedikit dibutuhkan dua titik pengukuran untuk melakukan korelasi atau membuat cross section. Data yang digunakan bisa menggunakan data apa saja. Kebetulan tutorial yang akan saya buat menggunakan data VES. Mengenai pengolahan data sounding sudah pernah saya tulis di Pemodelan Litologi dari Data Geolistrik konfigurasi Schlumberger

Software utama yang digunakan untuk pengolahan data sounding adalah IP2win dan untuk membuat korelasi menggunakan surfer. Langkah –kangkah untuk membuat korelasi litologi sebagai berikut :

Buka software IPI res3 seperti pada Gambar 1

Gambar 1. Shorcut software IPI re3

Buka file dengan ekstensi IPI format. File ini diperoleh dari cross section ketika kita mengolah data dengan IP2win. Setelah datanya terbuka maka akan disajikan menu seperti pada Gambar 2.
Gambar 2. Menu software IPI re3
 Horizontal scale digunakan untuk mengatur skala horizontal dan vertical scale digunakan untuk mengatur skala vertikal, atur skala, atur huruf untuk nilai resistivity. setelah selesai mengatur semuanya kemudian klik make EMF maka akan menampilkan korelasi data sounding seperti pada Gambar 3.


Gambar3. Section form dari software IPI res3

Untuk membuat korelasi litologinya kemudian buka software surfer.. Kemudian  klik base map atau menu map-new. Base map. Pilih data yang tadi disave dari IPI res3 dengan ekstensi .emf.


Gambar 4. Input data dari IPI res3 di surfer

Langkah selanjutnya adalah membuat korelasi nilai resistivitas yang sama ntuk menentukan lapisan batuan. Caranya adalah dengan mengklik menu – draw - polygon atau mengklik Gambar polygon seperti ditunjukan panah merah (Gambar 5)
Gambar 5. Menu polygon di surfer

Setelah itu menentukan titik mana saja yang akan kita korelasikan. Pada contoh ini saya akan mengkorelasikan titik dengan nilai tahanan jenis 10- 100 ohm.m sebagai pasir. Awalnya polygon yang kita buat hanya berupa garis hitam dan background putih. Untuk merubah warna tampilan tersedia menu property manager disana dapat merubah warna background, garis dan pattern yang akan digunakan.
Gambar 6, Properti manager polygon

Untuk mengedit polygon yang sudah kita buat menggunakan menu reshape seperti pada Gambar7. Caranya klik polygon yang akan kita edit kemudian klik reshape (panah merah) sehingga akan muncul titik warna putih. Titik tersebut yang akan diedit. Caranya tekan mouse sebelah kiri geser titik tersebut sesuai ke inginan kita. Untuk menambahkan titik tekan Ctrl. Untuk menghapus, klik titik tadi sehingga warnanya hijau kemudian tekan tombol delete. Hasil editing polygon seperti Gambar 7. 

Gambar 7. Edit polygon 

Gambar 8. Bentuk polygon setelah di edit.

Langkah selanjutnya adalah menambahkan label caranya klik draw-text atau klik huruf A ditunjukan oleh panah pada Gambar 7. Setelah itu klik polygon maka akan muncul jendala untuk menuliskan label seperti pada Gambar 8. Setelah menuliskan isi teksnya kemudian klik oke.

Gambar 9. Membuat teks

Lakukan pembuatan polygon untuk semua layer atau lapisan sehingga terbentuk penampng atau cross section seperti Gambar 10. 
Gambar 10. hasil dari korelasi data geolistrik 1d.
Sekian tutorial singkat mengenai pembuatan korelasi litologi batuan secara manual. Jika ingin diskusi bisa meninggalkan komentar atau mengirimkan email 





Sunday, 23 August 2015

Survei Geolistrik Menggunakan Flat-Base Eektroda

Flat-base elektroda merupakan salah satu metode yang digunakan untuk permukiman padat penduduk dan lingkangan yang sudah di beton.Survei geolistrik menggunakan susunan elektroda konvensional yang bisanya di masukan kedalam tanah beberapa centimeter tidak efektif apabila di terapkan di permukaan beton, marmer dan trotoar karena akan merusak permukaan tersebut. Dengan menggunakan flat-base elektroda dimana elektroda tersebut tidak perlu dimasukan kedalam tanah cukup di tempelkan dipermukaan saja.


Flat-base eketroda merupakan variasi jenis elektroda yang dapat digunakan pada material beton, marmer, trotoar dan paving blok. Elektroda ini terbuat dari tembaga dengan dimensi 7x7 cm dengan tebal 1 cm ditengahnya dipasang silinder tembaga dengan diameter 1 cm dan tinggi 7 cm seperti pada gambar 1. Agar resistivitas kontak antara elektroda dan permukaan kecil maka diberi gel konduktif supaya nilai resistansi di bidang batas menjadi kecil. Gel tersebut bisa menggunakan air, air garam atau bentonit. Bahan gel ini harus yang konduktif supaya nilai resistansinya dibidang batas elektroda dan permukaan kecil. Cara yang lain adalah dengan memasukan kabel dari resistivity meter kedalam bentonite secara langsung seperti pada gambar 2. 
Gambar 1. Bentuk flate base elektroda




Gambar 2. Kabel yang dimasukan ke bentonit

Kelemahan menggunakan flat-base elektroda adalah pada bidang kontak antara elektroda dengan permukaan tanah. Kontak antara permukaan elektroda dengan permukaan tanah akan menghasilkan nilai resistivitas yang tinggi.Oleh sebab itu penggunaan bahan konduktif merupakan salah satu cara untuk menurunkan nilai resistivitas yang tinggi. Masalah lain adalah nilai kadar air dipermukaan tanah akan mempengaruhi aliran arus menuju kedalam tanah. Penggunakan flat-base elektroda ini hanya pada permukaan tanah yang kering.
Anthanasiu (2007) melakukan eksperimen survey geolistrik menggunakan elektroda konvensional yang dimasukan kedalam tanah dan flat-base elektroda. Survei yang dilakukan adalah untuk mendeteksi batugamping yang berada pada kedalaman 0 – 5 m dari permukaan tanah. Survei yang dilakukan menggunakan konfigurasi wenner dengan spasi antar elektroda 1 m dan n maksimum adalah 6. Nilai resistivitas semu menggunakan elektroda konvensional dan flat elektroda seperti pada gambar 3.


Gambar 3. Hasil pengukuran resistivitas dilapangan

Dari hasil yang diperoleh survei menggunakan flat elektroda hampir sama dengan menggunakan elektroda konvensional. Perbedaan nilai resistivitas antara kedua jenis elektroda tersebut rata-rata 2,5 %. Hasil inversi dari kedua jenis elektroda seperti pada gambar 4 
Gambar 4. Hasil inversi menggunakan elektroda konvensional dan flat-base elektroda

Hasil inversi survei menggunakan elektroda konvensional memiliki RMS error 5,2 % sedangkan menggunakan flat-base elektroda sebesar 5,4%. Penampang 2D menggunakan flat-base elektroda dengan menggunakan elektroda konvensional hampir sama. Nilai resistivitas yang tinggi diinterpretasikan sebagai batu gamping berada pada jarak 17 m dari titik awal.
Contoh lain adalah untuk mendeteksi ruang kosong dibawah permukaan. Satu rongga terlihat dipermukaan namun diperkirakan masih ada rongga lagi yang tidak terlihat dipermukaan. Survei dilakukan dengan menggunakan metode geolistri. Elektroda yang digunakan adalah flat-base elektroda dengan spasi a = 1 dan n= 6.  Rongga yang terlihat dipermukaan berada pada elektroda 8-9. Hasil inversi hasil survei ini menunjukan nilai resistivitas tinggi yang diinterpretasikan sebagai rongga tersebut berada di elektroda 8-9 dan elektroda 11 – 12. Pada elektroda 11-12 ini diperkirakan sebagai rongga yang tidak terlihat dipermukaan. Nilai resistivitas yang rendah diinterpretasikan sebagai air lau yang mengikis tanah sehingga menjadi berongga.
Gambar 5. Hasil inversi geolistrik untuk mendeteksi rongga bawah permukaan 

Sumber :
Athanasiou, E. N., Tsourlos, P. I., Vargemezis, G. N., Papazachos, C. B., & Tsokas, G. N. (2007). Non-destructive DC resistivity surveying using flat-base . Near Surface Geophysics , 263-272.







Thursday, 20 August 2015

Metode Geolistrik Konfigurasi Half Schlumberger

Survey geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang masih sering digunakan untuk survei bawah permukaan yang dangkal. Survei ini sering digunakan untuk keperluan eksplorasi air tanah dalam, mengetahui batuan keras untuk pondasi bangunan dan survei mineral. Salah satu konfigurasi yang sering digunakan untuk menampilkan grafik satu dimensi adalah konfigurasi Schlumberger. Konfigurasi ini menggunakan dua elektroda potensial dan dua elektroda arus listrik. Konfigurasi ini sangat cocok untuk mengetahui litologi batuan secara vertical. Namun untuk target yang lebih dalam dibutuhkan bentangan elektroda yang jauh. Kedalaman penetrasi maksimum dengan menggunakan konfigurasi ini adalah 1/3 dari jarak elektroda arus (Nejad et.al, 2011). Sehingga dalam survey menggunakan konfigurasi ini memerlukan waktu dan personil yang banyak. untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan modifikasi dari konfigurasi schlumberger dalam  untuk survei yang lebih dalam. Hasil modifikasi dari konfigurasi schlumberger dinakaman dengan  metode half schlumberger. Metode ini lebih efektif dibandingkan dengan metode schlumberger dan hasil dari metode ini sama dengan hasil dengan menggunakan metode schlumberger. Peralatan yang digunakan sama dengan metode schlumberger yaitu dua elektroda potensial dan dua elektroda arus.
Metodelogi

Alat yang digunakan untuk melakukan survei ini adalah dua buah elektroda arus dan dua buah elektroda potensial, dan alat resistivity meter. Barounis dan Karidima (2011) membuat konfigurasi half schlumberger seperti pada gambar 1. Susunan elektroda sama seperti dengan konfigurasi schlumberger dimana arus potensial M dan N memiliki jarak 1 m dari titik tengah atau kurang dari 1/3 dari jarak arus AB/2. Namun jika potensial yang terekam oleh alat rendah (<3 mV) elektroda potensial dipindah menjauhi titik tengah sehingga menghasilkan nilai potensial sesuai dengan profil.
Gambar 1. Konfigurasi Half Schlumberger Barounis dan Karidima (2011)

Elektroda potensial bergerak dengan cara beraturan misalkan 3.2 m , 5 m, 6 m dan seterusnya. Sementara jarak elektroda B (L) memiliki jarak 3x(AB/2). Contoh untuk target kedalaman 50 m. maka jarak maksimum elektroda arus adalah 50 m dari titik tengah sehingga jarak untuk elektroda B yang tetap adalah 150 m. Untuk pengambilan data seterusnya yang dipindah hanyalah elektroda A saja. Faktor geometri untuk konfigurasi half schlumberger adalah :
Sedangkan Akintorinwa dan Abiola, (2012) membuat konfigurasi half schlumberger seperti gambar 2. Bedanya dengan susunan Barounis dan Karidima (2011) adalah pemasangan elektroda yang posisinya tegak lurus dengan titik tengah. Untuk perpindahan elektroda arus nya sama saja yaitu hanya satu elektroda saja. Faktor geometri dari susunan elektroda seperti ini adalah :
Gambar 2. Konfigurasi Half Schlumberger Okintorinwa dan  Abiola 2012
Sumber : 
Barounis, N. a. (2012). Application of Half Schlumberger Configuration Detcting Karstic Cavities and Void for Wind Farm Site in Greece. Journal of Earth Sciences and Geotechnical Engineering , 101- 116.
J, Akintorinwa. O., & O, Abiola. (2012). Comparasion of Schlumberger and Modified Schlumberger Array VES Interpretation Result. Research Journal in Engineering and Applied Sciences , 190-196.
Nejad, H. T., Mumipor, M., Kaboli, R., & Najib, O. A. (2011). Vertical Electrical Sounding (VES) Resistivity Survey Technique to Explore Groundwater in an Arid Region, Southeast Iran. Journal of Applied Science





Thursday, 13 August 2015

Cara Membuat Penampang Litologi Dari Data Geolistrik

Postingan yang sebelum sebelumnya banyak membahas mengenai survey geolistrik 1 d atau dikenal dengan vertical electrical sounding (VES) (Pengolahan data geolistrik menggunakan IP2win, pemodelan litologidari data Geolistrik 1D. Sekarang akan mencoba membahas mengenai survey 2D atau mapping. Teori tentang mapping mungkin sudah di ajarkan dikuliah oleh dosen. Mulai dari konfigurasi, interpretasi dan faktor geometri. Di tulisan ini akan dibahas sedikit mengenai cara menampilkan penampang litologi dari hasil interpretasi survey geolistrik. Biasanya untuk pengolahan data mapping software yang digunakan adalah re2div yang menghasilkan penampang 2d seperti dibawah ini :
Setelah diperoleh nilai tahanan jenis batuan kemudian tahapan selanjutnya interpretasi litologi dengan menggunakan nilai tahanan jenis batuan berdasarkan teori dan peta gelologi atau menggunakan data borehole.
Kebetulan daerah survey pada penampang 2D diatas terdiri dari batupasir, batugamping dan granit  untuk menentukan zona lemah. Jika diurutkan nilai resistivitas paling kecil adalah batupasir, batugamping dan paling besar granit.
Langkah awal untuk membuat litologi berdasarkan data geolistrik adalah
  • Export hasil dari pengolahan res2dinv dalam bentuk surfer. Caranya klik menu Display kemudian akan ditampilkan ke menu display res2div pilih file – save data in surfer format maka akan muncul seperti dibawah :

Disana ada beberapa pilihan pertama untuk menentukan skala yang akan digunakan, kedua tentang interpolasi apakah dikosongkan sama seperti res2div atau diinterpolasi ketiga pilihan tipe data yang akan diexport pada tutorial ini pilih model resistivity dengan topography.
  • Langkah kedua buka software surfernya dan grid data hasil export yang berekstensi DAT. Kemudian klik Map-New- Countur map untuk menampilkan gridnya.
  •  untuk menghilangkan nilai yang diluar penampang seperti di res2div maka dilakukan blank gird. Caranya klik gird-blank pilih grid dari hasil langkah 2, kemudian pilih data yang berekstensi BLN hasil export dari res2div tadi. Untuk melihatnya klik map-new contour map pilih grid yang telah melewati proses blank gird. Hasilnya seperti dibawah ini. Atur skala warna dan contur sesuai keiinginan.

  • Tahapan selanjutnya adalah proses interpretasi. Berdasarkan teori dan peta geologi penampang 2d dibagi menjadi 3 litologi yaitu. Batupasir dengan nilai rho 10-200 (ohm,m), batugamping dengan nilai rho 200-1000 (ohm.m). Setelah menentukan cutt off masing masing batuan kemudian langkah selanjutnya adalah mengedit contour dengan cara merubah level method menjadi advance, klik edit level sehingga muncul level for map seperti dibawah. Silahkan tentukan jumlah level yang ditampilkan untuk membuat litologi klik gambar fill sehingga muncul fill properti. Pilih background, pattern dan foreground sesuai keinginan anda pada tutorial ini hanya ingin membuat 2 lapisan litologi.

Setelah selesai semua klik oke sehingga diperoleh peta litologi seperti dibawah 
Hasil interpretasi litologi berdasarkan tahanan jenis batuan
untuk memberi label litologi. Menggunakan draw text (menu huruf A). gambar dibawah ini merupakan perbandingan penampang resistivitas dengan penampang litologi :
Perbandingan antara litologi dan nilai tahanan jenis batuan







Tuesday, 11 August 2015

Hubungan Antara Hukum Ohm dengan Hukum Darcy untuk Menentukan Parameter Akuifer

Hendry Darcy, seorang pakar hidraulik dari prancis mempublikasikan penelitian ilmiahnya mengenai aliran air dalam pasir yang dikenal dengan hukum Darcy. Sedangkan hukum ohm pertama kali ditemukan oleh Georg Ohm ilmuan fisika asal Jerman. Penemuannya yang terkenal adalah mengenai hubungan antara aliran listrik, tegangan dan tahanan konduktor dalam sirkuit yang dikenal dengan  hukum Ohm. Pergerakan aliran air dalam medium yang berpori hampir sama dengan pergerakan arus listrik yaitu mengalir dari potensial tinggi dan potensial rendah. Pergerakan aliran air dipengerahui oleh nilai hidraulik yang dapat diukur dengan melakukan tes pompa. Sedangkan aliran arus listrik dipengaruhi oleh konduktivitas elektron yang dapat diukuri dengan survey geolistrik dipermukaan.
Gambar dibawah ini merupakan ilustrasi aliran fluida sederhana yang melewati  kubus pada saat kondisi stabil dengan  panajang sisi t. pada kubus tersebut mengalir air sebesar Q dari sisi kiri (ABCD) dan keluar pada sisi kanan (MNOP). 

Saturday, 8 August 2015

Evaluasi Kualitas Air Tanah Dengan Menggunakan Metode Geolistrik

Air tanah merupakan sumber air minum untuk masyarakat, selain itu air tanah digunakan untuk kebutuhan industri, pertambangan dan pertanian. Semakin bertambahnya manusia dan industri maka air tanah dapat tercemar atau terkontaminasi oleh limbah industri atau limbah rumah tangga. Keberadaan air tanah dapat dibedakan menjadi dua yaitu air pada vadose zone dan air yang terdapat pada phreatic zone. Vadose zone merupakan air anah yang relatif dangkal. Zona phreatic merupakan air tanah dalam yang terdiri dari zona saturasi dan non saturasi. Air yang ada pada vadose zone dan phreatic zone dapat terkontaminasi dari permukaan apabila lapisan penutupnya memiliki porositas yang besar dan permeabilitas yang besar atau kandungan lempungnya sangat sedikit.


Sebaran kontaminasi akuifer air tanah dapat diketahui dengan menghitung parameter akuifer seperti porositas, permeabilitas, hidraulik konduktivitas, storativitas dan termisivitas. Parameter tersebut dapat diketahui dengan malakukan pumping test (tes pompa). Melakukan tes pemompaan memerluka biaya yang mahal dan waktu yang lama. Oleh sebab itu, metode geolistrik dapat dijadikan sebagai alternatif untuk melakukan perhitungan parameter akuifer.


Untuk lapisan horizontal homogen isotropis hubungan antara reistivitas batuan dan ketebalan akuifer dapat dituliskan dalam bentuk resistansi transvesal (R) dan konduktansi longitudinal (S) sebagai berikut :


rumus 1



Pendekan untuk menghitung transmisivitas (T) dinyatakan sebagai hasil dari perkalian antara hidraulik konduktivitas (K) dengan ketebalan akuifer (h).