This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Geofisika. Show all posts
Showing posts with label Geofisika. Show all posts

Tuesday, 2 August 2016

UNDERSTANDING NORTH JAVA COASTAL AQUIFER SYSTEM: EVIDENCE FROM KENDAL, MID JAVA

Ali LUKMAN (1), Muhammad DEFI ARYANTO (2), Adhi PRAMUDITO (2), Adi ANDHIKA (2), and DR. Dasapta ERWIN IRAWAN (3)
(1)           Student of Magister Geological Engineering Program, Bandung Institute of Technology
(2)           Hydrogeologist and Geophysics of PT. Supra Indodrill
(3)           Hydrogeologist of Groundwater Engineering Departement, Bandung Institute of Technology INDONESIA

alilukman.geologi@gmail.com and pramuditoadhi.supra@gmail.com   
ABSTRACT
North coast of Java has been grown to be center of economic activities. Those activities must be supported by sustainable water supply, groundwater is one of the source. However the complex alluvium aquiver system has not been well-understood.

A geoelectric measurements were performed to determine which rock layer has a good potential as groundwater aquifers in the northern coast of  Kaliwungu Regency, Kendal District, Central Java province. Total of 20 vertical electrical sounding (VES) points has been performed, using a Schlumberger configuration with the current electrode spacing (AB/2) varies between 200 - 300 m and the potential difference electrode spacing (MN/2) varies between 0.5 to 20 m with depths target ranging between 150 - 200 m. Geoelectrical data processing is done using Ip2win software which generates resistivity value, thickness and depth of subsurface rock layers.

Based on the correlation between resistivity value with regional geology, hydrogeology and local well data, we identify three aquifer layers. The first layer is silty clay with resistivity values vary ​​between 0 - 10 ohm.m, then the second layer is tuffaceous claystone with resistivity value between 10 - 60 ohm.m. Both layers serve as impermeable layer. The third layer is sandy tuff with resistivity value between 60 - 100 ohm.m which serves as a confined aquifer layer located at 70 - 100 m below surface. Its thickness is vary between 70 to 110 m. The aquifer layer is a mixing of volcanic and alluvium sediment, which is a member of Damar Formation. The stratification of the aquifer system may change in short distance and depth. This natural setting prevent us to make a long continuous correlation between layers. Aquifer discharge is estimated between 5 - 71 L/s with the potential deep well locations lies in the west and southeast part of the study area.

Keywords: vertical electrical sounding (VES), Kendal, coastal aquifer system


This slide was presented in the ICES ITB July 2016. The official website of this event is http://portal.fi.itb.ac.id/ices2016/


Thursday, 25 February 2016

Survey Seismik refraksi di Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat


Telh dilakukan survey seismik refraksi didaerah pembangunan PLTM sungai Induring kecamatan Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan bersama tim dari Supra Indodrill dan Arsy Geo Energi Metode seismik refraksi merupakan salah satu metode geofisika yang digunakan untuk mengetahui bawah permukan. Secara umum metode ini memanfaatkan pembiasan gelombang  yang merambat di medium tanah. Metode Ini dapat digunakan untuk survey keperluan geoteknik, menentukan kekerasan batuan mencari akuifer dan survey lapisan Lapuk. 
















Monday, 1 February 2016

Pengolahan Data Seismik 3D Lapangan ”X” Menggunakan Perangkat Lunak Paradigm”

Muhamad Defi Aryanto
Jurusan Fisika FMIPA, UNS



Abstrak
Pemrosesan data seismik merupakan slah satu tahapan dalam metode seismik eksplorasi tujuan dilakukan pengolahan data seismik yaitu untuk menghasilkan penampang seismik dengan Signal to noise yang baik . Tahapan dalam pengolahan data seismik terdiri dari preprocessing, main processing dan post processing. Pada makalah ini menjelaskan tentang pengolahan data seismik 3D di lapangan x menggunakan software paradigm. Tahapan yang dilakukan pada prosessing data seismik ini yaitu. Initial geometry, filtering, dekonvolusi, analisa kecepatan koreksi residual dan Migrasi. Hasil dari pengolahan data seismik yaitu penampang seismik 3D yang telah melalui tahapan Prestack time migration. Metode migrasi yang digunakan yaitu kirchoff migration.


Kata kunci : seismik, Pengolahan data, PSTM

full text Download:

Sunday, 31 January 2016

Survey Geolistrik

Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang memanfaatkan sifat aliran listrik untuk mengetahui kondisi bawah permukaan. Metode ini terdiri dari berbagai konfigurasi diantaranya Schlumberger, wenner, Dipole-dipole. Data yang dihasilkan dari survey geolistrik merupakan kurva resistivitas 2D mapping dan kurva resistivitas 1 D. Kegunaan dari survey ini diantaranya : 
  1. Eksplorasi Air tanah
  2. Eksplorasi mineral
  3.  Eksplorasi Batubara
  4.  Survey Geoteknik
Berikut ini merupakan contoh laporan untuk servei Geolistrik :
  • Survei menentukan kedalaman badrock untuk keperluan geoteknik
  • Survei Geolistrik untuk eksplorasi air tanah 
Penampang 2d Hidrostratigrafi
  • Survey geolistrik untuk sumur bor air tanah






Tuesday, 26 January 2016

Survey Geolistrik Untuk Memetakan Intrusi Air Laut dan Air Tawar di Pantai Utara Laut Jawa Kabupaten Kendal Jawa Tengah

Metode geolistrik selain digunakan untuk mengetahui posisi kedalaman air tawar, metode ini juga bisa digunakan untuk mengetahui sebaran intrusi air laut. Dua minggu yang lalu kami bersama PT Supra Indodrill (supraindodrill.comdan LAPI ITB melakukan survey geolistrik di pesisir pantai Utara Kabupaten Kendal. Daerah ini rencananya akan di buat sebagai Kawasan Industri Kendal.

















Saturday, 2 January 2016

Eksplorasi potensi air tanah di kawasan aluvial Plupuh - Tanon, Kab. Sragen: aplikasi metode geolistrik tahanan jenis

Muhamad Defi Aryanto[1], Feri Andianto[2], dan Dasapta Erwin Irawan[3]*
[1]Prodi Fisika, Universitas Sebelas Maret, Surakarta
[2]CV Tirta Persada
[3]Prodi Magister Teknik Air Tanah, FITB ITB
* corresponding author

Abstrak

Survei geolistrik dilakukan untuk mengetahui batuan yang berpotensi sebagai akuifer di Kec.  Plupuh dan Tanon Kab. Sragen. Pengukuran geolistrik telah dilakukan di kedua lokasi masing-masing sebanyak 11 titik vertical electrical sounding (VES) menggunakan konfigurasi Schlumberger dengan jarak elektroda arus (AB/2) 150 – 200 m dan jarak elektroda potensial (MN/2) 0,5 – 10 m. Interpretasi nilai resistivitas menghasilkan lapisan lempung (1 – 10 ohm.m) dan pasir (10 – 100 ohm.m) berpotensi sedang sampai produktif, membentuk sistem akuifer endapan aluvial perselingan antara lempung dan pasir. Dari interpretasi posisi lapisan impermeabel, akuifer tertekan tersusun dari pasir dapat diidentifikasi di Kec. Tanon pada kedalaman akuifer 30 – 60 m dan ketebalan 30 – 50 m, dan di Kec. Plupuh pada kedalaman akuifer 15 – 45 m dan ketebalan 30 – 50 m. Hasil pemetaan ini dapat digunakan oleh pihak berwenang untuk menyiapkan sumber air baru bagi masyarakat.
Kata kunci: akuifer aluvial, geolistrik, vertical electrical sounding, Sragen

Abstract
Geoelectrical survey has been conducted to identify groundwater potential in Plupuh and Tanon districts, Sragen. We measured 11 Vertical electrical sounding (VES) using Schlumberger configuration with 150 – 200 m of current electrode interval (AB/2) and 0.5 – 10 m of potential electrode interval (MN/2). The method successfully identify clay layers with resistivity value interval of 1 – 10 ohm.m and productive sand layers with a range of resistivity value 10 – 100 ohm.m. Both layers build an alluvial system. In the Tanon district, there are confined aquifers at 30-60 m in depth with a thickness between 30 – 50 m, where as in the Plupuh districts, the depth of confined aquifers are 15-45 m with a thickness of 30-50 m. The above findings are very promising for the authorities to set up a new water supply source for the area.
Key Words: Geolectrical, Aquifer, Schlumberger Configuration. 



Jika anda memerlukan survei geolistrik atau tenaga ahli dibidang geolistrik hub 085726824773/ 0812215262615 email aryanto.defi@yahoo.com.

Saturday, 21 November 2015

Karakterisasi Reservoar Menggunakan Seismik Inversi Simultan untuk Menentukan Penyebaran Reservoar Hidrokarbon

Muhamad Defi Aryanto1), Darsono1) Julikah 2) Humbang Purba2)
1)Jurusan Fisika FMIPA Universitas Sebelas Maret Jl. Ir Sutami,36 A, Surakarta
2)Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS

Jl. Ciledug Raya, Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, P.O. Box 1089/JKT, Jakarta Selatan 12230 INDONESIA

ABSTRAK
Analisis karakterisasi reservoar dilakukan untuk mengidentifikasi litologi dan kandungan fluida di Formasi Talang Akar Cekungan Sumatra Selatan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode inversi simultan. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah angel gather dan data log di sumur Puja A dan Puja B. Parameter elastis yang dihasilkan dari inversi simultan adalah Impedansi P, Impedansi S dan Vp/Vs rasio. Parameter lambda-Rho dan Mu-Rho  diturunkan dari impedansi P (Ip) dan impedansi S (Is). Lambda-Rho sensitif terhadap perubahan fluida sedangkan Mu-Rho sensitif terhadap perubahan litologi. Pada penelitian ini, target reservoarnya adalah Formasi Talang Akar yang mengandung gas dan memiliki nilai Lambda-Rho   antara 5-15 (GPa*g/cc)  dan nilai Mu-Rho 35-45 (GPa*g/cc). Perbandingan kecepatan gelombang P (Vp) dan gelombang S (Vs) ketika melewati fluida dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui kandungan fluida. Batuan yang mengandung gas memiliki nilai Vp/Vs lebih rendah dibandingkan dengan batuan yang mengandung air. Pada penelitian ini zona yang mengandung gas memiliki nilai Vp/Vs 1,5-1,7.

Kata Kunci : Inversi simultan, Lambda-Rho, Mu-Rho, Vp/Vs

ABSTRACT
Reservoir characterization analysis has been carried out for identifying lithology and fluid content on Talang Akar Formation in South Sumatra Basin. Robust method that being used in this study is the simultaneous inversion which uses pre-stack gather and well log data from Puja A and Puja B. Elastic parameters  resulted from simultaneous inversion  are P Impedance, S Impedance and Vp / Vs ratio. Lambda-Rho parameter  and Mu-Rho derived from P impedance (Ip) and S impedance (Is). Lambda-Rho describes  sensitively fluid content while Mu-Rho dominantly lithology. Area of interest in this study was Talang Akar Formation as reservoir which contains gas with Lambda-Rho  between 5-15 (GPa*g/cc) and Mu-Rho  35-45 (GPa*g/cc). The ratio of P wave (Vp) and S wave (Vs) can be used as an indicator to determine  fluid saturation. Gas saturated rock has value of Vp / Vs lower than the water saturated rock. In this study, the ratio of  Vp / Vs is 1.5-1.7 for gas saturated rock.

Keyword: Simultaneous Inversion, Lambda-Rho, Mu-Rho, Vp/Vs

Monday, 16 November 2015

Cara Membuat Korelasi Litologi dengan Surfer

Korelasi litologi diperlukan untuk memenentukan sebaran litologi yang sama di sekitar titik ukur. Paling sedikit dibutuhkan dua titik pengukuran untuk melakukan korelasi atau membuat cross section. Data yang digunakan bisa menggunakan data apa saja. Kebetulan tutorial yang akan saya buat menggunakan data VES. Mengenai pengolahan data sounding sudah pernah saya tulis di Pemodelan Litologi dari Data Geolistrik konfigurasi Schlumberger

Software utama yang digunakan untuk pengolahan data sounding adalah IP2win dan untuk membuat korelasi menggunakan surfer. Langkah –kangkah untuk membuat korelasi litologi sebagai berikut :

Buka software IPI res3 seperti pada Gambar 1

Gambar 1. Shorcut software IPI re3

Buka file dengan ekstensi IPI format. File ini diperoleh dari cross section ketika kita mengolah data dengan IP2win. Setelah datanya terbuka maka akan disajikan menu seperti pada Gambar 2.
Gambar 2. Menu software IPI re3
 Horizontal scale digunakan untuk mengatur skala horizontal dan vertical scale digunakan untuk mengatur skala vertikal, atur skala, atur huruf untuk nilai resistivity. setelah selesai mengatur semuanya kemudian klik make EMF maka akan menampilkan korelasi data sounding seperti pada Gambar 3.


Gambar3. Section form dari software IPI res3

Untuk membuat korelasi litologinya kemudian buka software surfer.. Kemudian  klik base map atau menu map-new. Base map. Pilih data yang tadi disave dari IPI res3 dengan ekstensi .emf.


Gambar 4. Input data dari IPI res3 di surfer

Langkah selanjutnya adalah membuat korelasi nilai resistivitas yang sama ntuk menentukan lapisan batuan. Caranya adalah dengan mengklik menu – draw - polygon atau mengklik Gambar polygon seperti ditunjukan panah merah (Gambar 5)
Gambar 5. Menu polygon di surfer

Setelah itu menentukan titik mana saja yang akan kita korelasikan. Pada contoh ini saya akan mengkorelasikan titik dengan nilai tahanan jenis 10- 100 ohm.m sebagai pasir. Awalnya polygon yang kita buat hanya berupa garis hitam dan background putih. Untuk merubah warna tampilan tersedia menu property manager disana dapat merubah warna background, garis dan pattern yang akan digunakan.
Gambar 6, Properti manager polygon

Untuk mengedit polygon yang sudah kita buat menggunakan menu reshape seperti pada Gambar7. Caranya klik polygon yang akan kita edit kemudian klik reshape (panah merah) sehingga akan muncul titik warna putih. Titik tersebut yang akan diedit. Caranya tekan mouse sebelah kiri geser titik tersebut sesuai ke inginan kita. Untuk menambahkan titik tekan Ctrl. Untuk menghapus, klik titik tadi sehingga warnanya hijau kemudian tekan tombol delete. Hasil editing polygon seperti Gambar 7. 

Gambar 7. Edit polygon 

Gambar 8. Bentuk polygon setelah di edit.

Langkah selanjutnya adalah menambahkan label caranya klik draw-text atau klik huruf A ditunjukan oleh panah pada Gambar 7. Setelah itu klik polygon maka akan muncul jendala untuk menuliskan label seperti pada Gambar 8. Setelah menuliskan isi teksnya kemudian klik oke.

Gambar 9. Membuat teks

Lakukan pembuatan polygon untuk semua layer atau lapisan sehingga terbentuk penampng atau cross section seperti Gambar 10. 
Gambar 10. hasil dari korelasi data geolistrik 1d.
Sekian tutorial singkat mengenai pembuatan korelasi litologi batuan secara manual. Jika ingin diskusi bisa meninggalkan komentar atau mengirimkan email 





Wednesday, 16 September 2015

Bagian Struktur Gunungapi

Gunungapi adalah bukit atau gunung yang mempunyai kepundan sebagai tempat keluarnya magma atau gas keluar dari bumi. Definisi lain mengenai gunung api adalah sistem aliran fluida panas yang memanjang dari kedalaman 10 km dibawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi. Indonesia memiliki 129 gunungapi aktif yang tersebar dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, kepulauan banda, Halmahera dan kepulauan Sangir. Keberadaan gunung api tersebut sebagai sumber daya alam yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat untuk energi panas bumi, pariwisata dan pertanian. Sebaran gunungapi di Indonesia terbagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok sunda, Sulawesi-Sangihe dan kelompok almahera. Kelompok sunda terdiri dari pulau Weh-Sumatra-Jawa-Bali-Sumbawa-Flores. Kelompok Sulawesi-Sangihe tersebar dari teluk Tomini, Sulawesi utara sampai dengan kepulauan Sangihe. kelompok Halmahera tersebar di beberapa pulau Halmahera bagian barat dan bagian utara.
Struktur gunungapi sebagai berikut :

Magma : cairan silikat pijar bersuhu 900 derajat – 1400 derajat celsius. Yang terdapat dibawah gunung api.
Kawah Utama memiliki diameter kurang dari atau sama dengan 2 km yang terletak di puncak gunung akibat dari erupsi di pusat.
Pipa Kawah : suatu lubang atau rekahan yang merupakan bidang lemah pada kerak bumi. Tempat magma menerobos ke permukaan atau terjadinya erupsi.
Kawah Samping : lubang dengan diameter kurang dari atau sama dengan 2 Km yang terletak di bagian lereng gunungapi.
Kerucut parasit : kerucut yang terbentuk dari akumulasi material hasil erupsi di luar kawah utama yang terletak di bagian tubuh gunungapi dengan ukuran lebih kecil dari kerucut utama gunungapi.
Lelehan lava: lava yang mengalir dilubang kawah sebagai akibat magma yang keluar kepermukaan secara efusi. Letusan efusi adalah batuan cair atau magma yang naik dari bawah permukaan bumi dan mengalir di permukaan bumi yang disebut lava

Saturday, 12 September 2015

Koleksi Batuan Beku di Museum Geologi

Setelah postingan sebelumnya mengenai koleksi batugamping dimuseum geologi. Saat ini saya akan mencoba memberikan contoh beberapa batuan beku yang ada di museum geologi. Batuan beku atau igneous rock terbentuk dari hasil pembekuan magma yang berbentuk cair dan panas. Magma tersebut mendingin dan mengeras di dalam atau diatas permukaan bumi. Berikut ini merupakan beberapa contoh batuan beku :

  • Basalt Skoria

Basalt Skoria merupakan batuan beku dengan memiliki ciri warna abu-abu kehitaman. batuan ini disusun seluruhnya oleh mineral gelas. struktur skoria berupa struktur yang berpori dan tidak teratur dalam massa dasar gelas.
Basalt Skoria

  • Diabas

Batuan Diabas merupakan jenis batuan beku yang terbentuk akibat tumbukan antara lempeng benua dengan lempeng samudra. Komposisi batuan diabase merupakan batuan beku basa yang mengandung miskin silica (45 - 52%). ciri batuan diabas mengkilap seperti pecahan kaca kecil, memiliki warna hitam, putih coklat dan abu abu. Tekstur batuan ini seperti pasir-pasir halus.
Diabas

  • Diorit

Terbentuk dari hasil peleburan lantai samudra pada suatu zona subduksi Diorit merupakan batuan beku intrusi yang memiliki warna coklat, coklat kehitaman dan abu-abu dengan bercak hitam. Tekstur batuan ini adalah feneris yang mineralnya berbutir kasar hingga sedang.Dioterit termasuk kedalam batuan yang kaya dengan kwarsa(SIO2) batuan ini terdiri dari kurang lebih 65% plagioklas dan 35% mineral silikat gelap seperti biotit dan augit.
Diorit

  • Lava Basalt

Lava basalt merupakan batuan beku yang terbentuk dari pendinginan magma di permukaan atau dekat permukaan. Batuan jenis ini memiliki ciri massive berwarna gelap dan memiliki kristal-kristal kecil
Lava Basalt

  • Gabro

Gabro memiliki wana yang gelap, warna yang gelap ini merupakan ciri dari batuan yang memiliki kandungan mineral silika yang rendah dan bersifat basa. struktur batuan ini adalah massive tidak terdapat rongga atau lubang udara. Mineral pada batuan ini dapat terlihat oleh kasat mata. Komposisi mineral Olivin, Piroksin, dan Amfibol.
Gabro


  • Peridotit 

Peridotit adalah batuan plutonik, yang terjadi dari hasil pembekuan magma berkomposisi ultra basa pada kedalaman tertentu dari permukaan bumi. Mineral pembentuk batuannya adalah : mineral mafis (olivin, piroksen, hornblenda) 85-95 %, mineral bijih (magnetit, ilmenit,kromit dll) 10-3 %, plagioklas kalsium 5 %.
Peridotit

  • Batu Apung


Batu apung (pumice) adalah jenis batuan yang berwarna terang, mengandung buih yang terbuat dari gelembung berdinding gelas. Batuan ini terbentuk dari magma asam oleh aksi letusan gunungapi yang mengeluarkan materialnya ke udara, kemudian mengalami transportasi secara horizontal dan terakumulasi sebagai batuan piroklastik mineral-mineral yang terdapat dalam batu apung adalah feldspar, kuarsa, obsidian, kristobalit, dan tridimit.
Batu Apung

  • Granit

Granit merupakan salah satu batuan beku, yang bertekstur granitik dan struktur holokristalin, serta mempunyai komposisi kimia ±70% SiO2 dan ±15% Al2O3, sedangkan mineral lainnya terdapat dalam jumlah kecil, seperti biotit, muskovit, hornblende, dan piroksen. Umumnya granit berwarna putih keabuan, Sebagai batu hias warna granit lainnya.
Granit
Sumber :
http://melylambardo.blogspot.co.id/2013/06/laporan-minpet.html
http://petrolab-upn.tripod.com/Diorit.htm
www.wilkipedia.com
http://materi-forever.blogspot.co.id/2014/01/jenis-batuan-batuan-beku-sedimen-dan.html
https://geologismuda.wordpress.com/2013/01/06/batuan-beku-basa-dan-ultra-basa/
http://www.tekmira.esdm.go.id/
Intan.D.W. Batuan Diabase
P.Aprilia F. 2013. Praktikum Petrologi