Wednesday, 17 April 2013

Mengorek Program kreatif Mahasiswa

Saya menulis ini berdasarkan apa yang saya lakukan mengenai analisa pelaksanaan program kreatifitas mahasiswa. Saya patut acungkan jempol kepada dikti dengen memberikan dana cukup banyak demi meningkatkan kretifitas mahasiswa dengan membuat program kreatifitas mahasiswa. Dari program tersebut dapat menghasilkan sarjana yang berkualitas karena PKM terdiri dai berbagai bidang di antaranya PKMP, PKMM,PKMT dan bidang lainya yang berkaitan dengan peningkatan kreatifitas mahasiswa.


Namun dari sekian banyaknya yang akan saya kritisi bukan dari hasilnya akan tetapi dalam proses pelaksaan. Alur pelaksanaan PKM di mulai dengan pembuatan proposalyang akan diajukan ke dikti, setelah proposal diterima makan dana yang akan di ajukan akan segera cair dalam beberapa tahapan. Dana yang diberikan dikti cukup besar antara 9.000.000 hingga 12. 000.000. setelah mendapatan dana kemudian dilakukan penelitian sesuai dengan Proposal tersebut. Dari hasil penelitian akan di uji atau di monitoring oleh dosen dari universitas lain sehingga kegiatan PKM yang terbaik akan di presentasikan di PIMNAS. Disini merupakan seleksi tertinggi untuk menghasilkan Juara terbaik.


Dari paparan tersebut saya akan membahas mengenai kekurangan dalam pelaksanaan program kreatif mahasiswa. Yang pertama mengenai pembuatan proposal. Menurut pendapat saya sendiri pembuatan proposal PKM ini bukanlah cara yang benar karena semua mahasiswa ketika membuat proposal dana yang tertulis dalam proposal tersebut tidak realistis dan mencantumlan total dana [aling maksimum, misal dari dikti dana PKM 12.000.000 maka dalam proposal tersebu ditulis 12.000.000 padahal dalam kenyataanya hanya memerlukan 5.000.000 . mungkin sebagaian besar mahasiswa menganggapnya ini hanyalah proposal namun jadi danax harus dilebihkan tapi apakah harus dengan cara seperi ini???. Bukan kah ini yang dinamakan dengan Mark Up anggaran?? Yang biasanya dilakukan oleh pelaku korupsi??. Yang paling di khawatirkan akibat kebiasan membuat anggaran seperti ini ialah menjadi kebiasan hingga tua nanti apalagi ketika menjadi pejabat negara, kalo dari bangku perkuliahan sudah dilatih seperti ini nanti ketika menjadi pejabat negara akan menaikan anggaran lebih besar. Padahal BEM sebagai lembaga yang sering melakukan protes ketika pejabat melakukan hal ini, bahkan mereka sampai demo namun untuk kasus ini apakah BEM mau mengeluarkan tajinya untuk mengevaluasi program ini???


Selain masalah proposal yang saya kritis di progam PKM ialah mengenai standar keberhasilan dalam pelaksanaan PKM, untuk masalah ini saya tidak tau apa yang terjadi di universitas lain, namun di univeristas saya selama melakukan PKM, ketika dana dari dikti cair maka hanya sebagian mahasiswa yang langsung mngerjakan program ini namun ada juga yang mash menunggu nunggu sehingga hasil dari program tersebut tidak maksimal. Namun yang paling anehnya walaupun program tidak berjalan dana yang di dapatkan sama jumlahnya sesuai dengan dana awal. Bahkan ketika kita tidak melakukan riset apapun asalkan ketika dilakukan monev datang maka dana tetap turun, dari kejadian ini PKM biasa dikatan juga sebagai ajang pencari keberuntungan dengan hanya membuat proposal, saran saya dikti menerapkan standart hasil dari PKM ini dan dana yang diberikan menyesuaikan dengan kegiatan yang di usulkan.

0 comments:

Post a Comment